Minggu, 17 April 2016

HIV AIDS, Menghindari Tanpa Mengucilkan

Tanggal 1 Desember merupakan hari peringatan akan bahayanya virus immonudifisiensi manusia, atau yang dalam bahasa inggris dikenal sebagai Human Immodifiency Virus (HIV). Virus yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1982 ini diyakini merupakan virus yang menyebabkan penyakit AIDS, salah satu penyakit mematikan di dunia yang saat ini banyak ditakuti masyarakat.
Virus yang diduga pertama kali muncul di Afrika selatan ini, menjadi momok menakutkan bagi masyarakat dunia. Terlebih penyakit yang menyerang sitem kekebalan tubuh ini bisa menular dengan cepat antar manusia. Penularan virus HIV AIDS sebenarnya tidak semudah penularan virus yang lainnya, virus ini hanya menular kepada sesama manusia melalui hubungan intim, jarum suntik, dan bisa juga melalui ASI.
Penularan melaui hal-hal tersebutlah yang membuat penyebaran virus HIV AIDS ini dengan cepat menyebar keseluruh penjuru dunia. Dalam waktu tidak lebih dari 35 tahun, virus ini telah membunuh jutaan manusia diseluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Meskipun iklan-iklan pencegahan penyebaran virus HIV AIDS ini gencar dipublikasikan oleh pemerintah maupun LSM.
Keganasan virus HIV AIDS ini bekerja menyerang system kekebalan tubuh. Maka tidak heran jika seseorang terjangkit virus ini bisa dipastikan daya tubuh orang tersebut melemah, dan ini yang menyebabkan tubuh dengan mudah diserang oleh berbagai penyakit. Inilah yang menjadikan HIV AIDS sebagai salah satu penyakit yang mematikan di dunia, dengan penyebarannya yang cepat.
Bagi sebagian masyarakat kita, menilai bahwa terjangkitnya virus HIV AIDS adalah sebuah aib. Ini tidak terlepas dari stigma masyarakat yang menilai virus ini merupakan virus yang menyebar melalui perbuatan-perbuatan tercela, seperti sex bebas dan narkoba. Ini yang menyebabkan banyak penderita HIV AIDS di Indonesia di perlakukan diskriminasi oleh masyarakat.
Memang tidak salah jika kita mencoba menghindari keganasan akan virus HIV AIDS ini, namun tidak lantas kemudian masyarakat meninggalkan dan mengucilkan mereka yang terjangkit virus ini. Pencegahan HIV AIDS bukan dengan meninggalkan sepenuhnya kehidupan mereka yang terjangkit, namun yang lebih terpenting ialah bagaimana pola hidup kita menjauhi hal-hal yang bisa menjadi jalan masuknya virus ini kedalam tubuh kita.
Meskipun memang harus ada “perlakuan spesial”, terhadap mereka yang terjangkit HIV AIDS, namun ini tidak menjadikan sebuah diskriminasi terhadap mereka. Perlakuan special dan jarak antara kita dengan mereka yang terjangkit HIV AIDS semata-mata agar penyebaran virus ini tidak menyebar ke kita. Namun dilain sisi, perhatian kita dan dukungan kita terhadap mereka yang terjangkit merupakan obat non medis yang sangat dibutuhkan oleh kawan-kawan kita yang terjangkit HIV AIDS.
Meninggalkan dan mengucilkan mereka yang terjangkit HIV AIDS, hanya akan memberikan beban ganda bagi mereka. Adanya fenomena semacam ini juga diakibatkan kurang fahamnya masyarakat dalam memandang HIV AIDS ini. Sosialisasi yang tepat dari pemerintah dan LSM kepada masyarakat yang berfokus pada pembahasan bayaha HIV AIDS, tanpa membarengi dengan sosialisasi perlakuan kita terhadap mereka yang terjangkit, membuat masyarakat panaroid dan menjauhi para pengidap HIV AIDS.
Menjauhi obat-obatan terlarang seperti narkoba, dan setia terhadap satu pasangan merupakan tindakan tepat menghindari dari HIV AIDS. Inilah yang seharusnya kita perhatikan guna mencegah terjangkit HIV AIDS. Bagaimana pola hidup kita yang sehat, dan menjalani hubungan yang benar terhadap mereka yang terjangkit HIV AIDS dinilai lebih penting guna menghindari terjangkit virus yang diduga berasal dari bangsa simpanse ini. *tulisan ini pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta edisi 2 Desember 2014 pada rubrik swara kampus



Tidak ada komentar:

Posting Komentar